Menjadi Orang Tua Juga Berarti Berani Bersuara

Assalamualaikum, belakangan ini, aku kembali memikirkan tentang kebakaran hutan di Kalimantan. Rasanya sedih sekaligus geram ketika melihat persoalan lingkungan seperti ini terus menjadi perhatian dari tahun ke tahun.

Hutan bukan hanya kumpulan pohon yang tumbuh di suatu wilayah. Ada banyak kehidupan yang bergantung di dalamnya. Ada satwa yang kehilangan habitat, masyarakat yang terdampak, dan lingkungan yang keseimbangannya ikut terganggu.

Menurutku, kita tidak seharusnya menganggap kerusakan lingkungan sebagai sesuatu yang biasa. Kita perlu terus mempertanyakannya, mencari tahu penyebabnya, dan mendorong upaya nyata agar persoalan yang sama tidak terus berulang.

Tentu, kita perlu berhati-hati dalam memahami suatu kasus. Kita perlu mengetahui fakta, memahami penyebabnya, dan tidak terburu-buru menyalahkan pihak tertentu tanpa bukti. Namun, berhati-hati bukan berarti kita harus berhenti bersuara.

Justru karena persoalan ini menyangkut kehidupan banyak orang, kita perlu lebih peduli. 

Dan sebagai seorang ibu, ada hal lain yang membuatku memikirkan persoalan ini lebih jauh.

Kita ingin memberikan masa depan yang baik untuk anak

Sebagai orang tua, kita tentu punya banyak harapan untuk anak-anak. Kita ingin mereka tumbuh sehat, mendapatkan pendidikan yang baik, memiliki kesempatan untuk mengembangkan potensinya, dan kelak mampu menjalani kehidupan dengan mandiri.

Kita berusaha menyiapkan banyak hal. Memilih sekolah, mendampingi proses tumbuh kembangnya, memenuhi kebutuhannya, dan memberikan berbagai pengalaman yang bisa membantu mereka mengenal dunia. Namun, di tengah kesibukan mempersiapkan masa depan anak, pernahkah kita berhenti sejenak untuk memikirkan 

Dunia seperti apa yang sedang kita siapkan untuk mereka?

Kita ingin anak-anak bisa menghirup udara bersih, menikmati alam, mengenal beragam makhluk hidup, dan tumbuh di lingkungan yang sehat. Tetapi, semua itu tidak hanya bergantung pada apa yang kita lakukan di rumah.

Ada hal-hal yang membutuhkan kepedulian bersama. Ada persoalan lingkungan yang memerlukan tindakan nyata dari masyarakat, dunia usaha, dan pemerintah. Ada keputusan-keputusan yang dampaknya mungkin tidak langsung kita rasakan hari ini, tetapi bisa memengaruhi kehidupan generasi berikutnya. Di sinilah aku merasa bahwa memikirkan masa depan anak tidak bisa berhenti pada urusan keluarga masing-masing.

Sebab, anak-anak kita tidak hanya akan mewarisi nilai-nilai yang kita ajarkan di rumah. Mereka juga akan mewarisi lingkungan tempat mereka hidup.

Lalu, mengapa orang tua perlu berani bersuara?

Mungkin ada yang berpikir bahwa persoalan kebakaran hutan terlalu besar untuk kita pikirkan di tengah kesibukan mengurus keluarga. Kita bukan ahli lingkungan. Kita juga bukan orang yang punya kewenangan untuk membuat kebijakan atau menghentikan kebakaran.

Lantas, apa yang bisa kita lakukan?

Menurutku, kita bisa mulai dengan menyadari bahwa menjadi orang tua bukan berarti kita hanya bertanggung jawab terhadap anak-anak yang ada di rumah kita.

Kita juga hidup di tengah masyarakat. Kita menggunakan sumber daya alam yang sama, menghirup udara dari lingkungan yang sama, dan ikut merasakan dampak dari berbagai keputusan yang memengaruhi kehidupan bersama.

Karena itu, ketika ada persoalan yang mengancam lingkungan dan masa depan generasi berikutnya, kita punya alasan untuk peduli.

Bagi sebagian orang, kepedulian itu diwujudkan melalui aksi langsung di lapangan. Bagi yang lain, mungkin melalui edukasi, dukungan terhadap upaya konservasi, atau menyuarakan kritik dan pertanyaan kepada pihak yang memiliki tanggung jawab.

Tidak semua orang harus melakukan hal yang sama. Kita bisa mengambil bagian sesuai kemampuan masing-masing.

Bagiku, speak up bukan berarti harus selalu berdebat atau mengomentari semua persoalan. Bersuara bisa dimulai dari keberanian untuk tidak menormalisasi sesuatu yang perlu diperbaiki.

Kita bisa bertanya mengapa kebakaran terus berulang. Kita bisa mencari informasi tentang upaya pencegahannya. Kita bisa menyampaikan keresahan, membagikan informasi yang dapat dipercaya, dan mendukung langkah-langkah yang benar-benar bertujuan melindungi lingkungan. Kita juga bisa mendorong pihak yang berwenang agar menjalankan tanggung jawabnya dengan serius.

Mungkin suara kita tidak langsung mengubah keadaan. Namun, bukan berarti suara itu tidak berarti.

Aku percaya bahwa kepedulian perlu menemukan jalannya untuk diwujudkan. Sebab, jika kita hanya merasa sedih tanpa pernah mencoba melakukan sesuatu, ada kemungkinan persoalan yang sama akan terus berlalu tanpa mendapat perhatian yang cukup.

Anak-anak juga belajar dari cara kita menyikapi dunia

Sebagai seseorang yang tertarik pada pengasuhan dan perkembangan anak, aku sering memikirkan bagaimana nilai-nilai terbentuk dalam kehidupan sehari-hari.

Kita bisa mengajarkan anak untuk menyayangi tanaman, membuang sampah pada tempatnya, menghemat air, dan tidak menyakiti hewan. Semua itu merupakan langkah sederhana yang penting. Namun, ada hal lain yang juga ingin kita wariskan salah satunya kemampuan untuk peduli terhadap sesuatu yang berada di luar kepentingan dirinya sendiri.

Bagaimana anak belajar bahwa kehidupan makhluk lain juga penting? Bagaimana mereka memahami bahwa persoalan yang terjadi jauh dari rumahnya tetap bisa menjadi sesuatu yang perlu diperhatikan? Menurutku, salah satu caranya adalah dengan memberikan contoh.

Ketika anak melihat kita membaca berita, mencari tahu kebenaran informasi, atau berdiskusi tentang suatu persoalan, mereka mendapat kesempatan untuk belajar bahwa tidak semua informasi harus diterima begitu saja.

Ketika mereka melihat kita menyampaikan pendapat dengan santun, mempertanyakan sesuatu dengan alasan yang jelas, dan tidak terburu-buru menyalahkan orang lain, mereka belajar bahwa keberanian dan tanggung jawab bisa berjalan bersama.

Kita juga bisa mengajak mereka berdiskusi tentang kebakaran hutan sesuai usia dan pemahamannya. Menjelaskan bahwa hutan merupakan rumah bagi banyak makhluk hidup, bahwa kerusakan lingkungan dapat memengaruhi kehidupan manusia, dan bahwa setiap orang punya peran dalam menjaga alam. Kita tidak harus memberikan semua jawaban. Kita bisa mengakui ketika belum tahu, kemudian mengajak anak mencari tahu bersama.

Bagi anak, pengalaman seperti ini bisa menjadi kesempatan untuk belajar berpikir kritis, membangun empati, dan memahami bahwa kepedulian tidak cukup hanya diucapkan. Tentu, anak tidak harus dibebani dengan tanggung jawab menyelesaikan persoalan lingkungan yang besar. Itu adalah tanggung jawab bersama yang juga membutuhkan tindakan serius dari orang dewasa dan pihak yang memiliki kewenangan.

Tugas kita adalah membantu anak memahami dunia secara bertahap, sekaligus menunjukkan bahwa orang dewasa pun perlu mengambil tanggung jawab atas apa yang terjadi di dalamnya.

Aku ingin anak berani bersuara, tetapi apakah aku sudah memberikan contoh?

Ada satu refleksi yang kemudian kembali kepadaku.

Kita sering berharap anak tumbuh menjadi pribadi yang berani menyampaikan pendapat, memiliki pendirian, mampu berpikir kritis, dan tidak mudah mengikuti sesuatu tanpa memahami alasannya. Namun, keberanian seperti itu tidak tumbuh begitu saja ketika anak dewasa.

Anak membutuhkan ruang untuk bertanya, kesempatan untuk menyampaikan pendapat, dan pengalaman bahwa suaranya bisa didengarkan. Mereka perlu belajar bahwa berbeda pendapat tidak selalu berarti tidak menghormati orang lain.

Dalam pengasuhan, kita tentu tetap membutuhkan aturan dan batasan. Tetapi, mengajarkan anak untuk menghormati aturan tidak harus berarti membiasakan mereka untuk selalu diam.

  • Anak yang santun tetap boleh bertanya. 
  • Anak yang menghormati orang lain tetap boleh tidak setuju. 
  • Anak yang memahami aturan juga perlu belajar mengapa suatu hal perlu dilakukan dan bagaimana menyikapi sesuatu yang menurutnya perlu diperbaiki.

Dan sebagai orang tua, mungkin kita juga perlu belajar melakukan hal yang sama.

Ketika melihat persoalan lingkungan, apakah kita berani mempertanyakannya? Apakah kita bersedia mencari tahu lebih jauh? Apakah kita mau menyampaikan keresahan dengan cara yang bertanggung jawab?

Aku tidak mengatakan bahwa kita harus menjadi orang yang selalu vokal atau terlibat dalam setiap persoalan. Kita semua memiliki keterbatasan dan prioritas masing-masing. Namun, aku merasa penting untuk mengingatkan diri sendiri bahwa kepedulian tidak harus berhenti pada perasaan. Ada kalanya kita perlu berbicara. Ada kalanya kita perlu mengajukan pertanyaan. Dan ada kalanya kita perlu menggunakan ruang yang kita miliki untuk menyuarakan sesuatu yang penting.

Bukan untuk merasa paling benar, melainkan karena ada hal-hal yang memang perlu diperjuangkan bersama.

Kita tidak harus melakukan semuanya, tetapi jangan merasa tidak bisa melakukan apa-apa

Aku memahami bahwa persoalan kebakaran hutan bukan sesuatu yang bisa diselesaikan hanya dengan mengubah kebiasaan keluarga. Pencegahan kebakaran, perlindungan hutan, penanganan masyarakat terdampak, serta penegakan aturan membutuhkan keseriusan dan tanggung jawab berbagai pihak.

Karena itu, penting untuk tidak membebankan seluruh tanggung jawab kepada individu atau keluarga. Pihak yang memiliki kewenangan harus menjalankan perannya, dan kebijakan yang berkaitan dengan perlindungan lingkungan perlu terus dievaluasi.Namun, kita juga tidak harus menunggu sampai memiliki kekuasaan untuk menunjukkan kepedulian.

Kita bisa mulai dengan mencari informasi yang benar, membiasakan keluarga menjaga lingkungan, mendukung upaya perlindungan alam yang kredibel, dan menggunakan suara kita untuk mendorong perubahan. Kita bisa mengajarkan anak bahwa mencintai alam bukan hanya tentang menikmati keindahannya, tetapi juga tentang memahami bahwa kehidupan manusia saling terhubung dengan kehidupan makhluk lain.

Mungkin tindakan kita terlihat kecil jika dibandingkan dengan besarnya persoalan. Namun, kita tetap bisa mengambil bagian tanpa harus merasa bahwa kita bertanggung jawab menyelesaikan semuanya sendirian.

Bagiku, yang penting adalah tidak membiarkan rasa tidak berdaya berubah menjadi ketidakpedulian.

Karena masa depan anak juga perlu kita perjuangkan

Pada akhirnya, aku kembali pada alasan mengapa persoalan ini terasa dekat dengan kehidupan kita sebagai orang tua.

Kita ingin anak-anak memiliki masa depan yang baik. Kita ingin mereka tumbuh di lingkungan yang sehat, memiliki kesempatan untuk belajar dan berkembang, serta mampu menjalani kehidupan dengan baik. Tetapi, masa depan itu tidak hanya ditentukan oleh apa yang kita lakukan untuk anak-anak di rumah. Ada banyak hal di luar rumah yang juga memengaruhi kehidupan mereka. Mungkin kita tidak bisa memastikan bahwa mereka akan tumbuh di dunia tanpa masalah. Namun, kita bisa berusaha agar mereka mewarisi lingkungan yang lebih baik, sekaligus nilai-nilai yang membantu mereka merawatnya.

Kita bisa mengajarkan mereka untuk peduli, berpikir kritis, memeriksa informasi, dan berani menyampaikan pendapat dengan bertanggung jawab. Dan kita bisa menunjukkan bahwa nilai-nilai tersebut bukan hanya sesuatu yang perlu dimiliki anak, tetapi juga perlu dipraktikkan oleh orang dewasa.

Karena itu, ketika melihat persoalan seperti kebakaran hutan di Kalimantan, aku merasa bahwa kepedulian kita tidak seharusnya berhenti pada rasa sedih atau khawatir.

Kita bisa mulai bertanya, mencari tahu, dan mengambil bagian sesuai kemampuan kita.

Menjadi orang tua juga berarti berani bersuara.

Bukan karena kita memiliki semua jawaban, bukan pula karena kita bisa menyelesaikan semua persoalan. Melainkan karena kita peduli terhadap dunia yang akan ditinggali anak-anak kita. Sebab, memperjuangkan masa depan anak bukan hanya tentang mempersiapkan mereka agar mampu menghadapi dunia. Kita juga perlu ikut menjaga dunia yang kelak akan mereka hadapi.

Comments