Pesan dalam Drama Hometown Cha cha cha

 Assalamualaikum, 

Salah satu drama korea yang aku repeat menonton salah satunya adalah Hometown Chacha. Entah kenapa drama ini begitu menenangkan secara mata dan telinga ketika menonton. Mungkin karena view yang dihidangkan adalah pedesaan juga pantai yang memanjakan mata. Backsound juga sangat mendukung, ditemani dengan gendre musik yang mood, membawa ketenangan ketika menontonnya. Ditambah kehangatan konsep warga desa dan pemeran utama Hong Duk Sik yang menambah kehangatan drama ini. 

Sebenarnya sudah sejak awal menonton drama ini ingin sekali menuliskan pesan dan kesannya di blog. Salah satu drama favorit juga dengan banyaknya memberikan pesan sesuai dengan hal yang aku pelajari dan upayakan saat ini yaitu hidup minimalis yang berkesadaran. Selain itu banyak juga pesan moral seperti parenting, pernikahan dan kehidupan bersosial dalam drama ini. 

Well, kali ini aku akan membahas tentang pesan moral tentang kehidupan dalam drama Hometown Chacha, tapi sebelumnya kita bahas sinopsis singkat dalam drama ini dulu. Btw, tulisan ini mengandung spoiler ya, hehe.

Sinopsis Drama Hometown Cha-Cha

Hometown Cha-Cha merupakan drama yang dihadirkan di Netflix tahun 2021, dibintangi oleh Shin Min-ah dan Kim Seo-ho. Salah satu yang menarik penonton termasuk diriku adalah, couple dalam drama ini sama-sama memiliki lesung pipi, hihi. Ditambah sebelumnya Kim Seo-ho sudah sukses membawakan karakter Han Ji-peong dalam drama Start Up. Sehingga drama ini sangat diminati bagi para penggemar Han Ji-peong, termasuk aku, wkwk. 

Shin Min-ah berperan sebagai Yoon He-jin yang merupakan seorang dokter gigi, karena keterpaksaan kondisi ia memutuskan untuk membuka klinik gigi di desa Gongjin. Sedangkan Kim Seo-ho berperan sebagai Hong Duk-sik merupakan warna desa Gongjin yang serba bisa dan senang membantu sehingga dijuluki Kepala Hong. Drama ini mengisahkan kisah cinta romantis juga sarat makna kehidupan dan tidak ketingalan sisi humor dalam drama ini. Jadi buat kamu yang belum nonton, wajib nonton deh!

Pesan Kehidupan dalam Drama Hometown Cha-Cha

1. Hidup Sederhana dan Menikmati Hidup

Hong Duk-sik memiliki karakter interpersonal yang sangat baik. Satu desa mengenalnya karena dia suka menolong, dapat diandalkan, ramah dan peduli. Yang aku paling suka dari karakter Duk Sik adalah dia tau cara menikmati hidup. Bahagia dengan cara yang sangat sederhana, Duk Sik mengajarkan kita bagaimana bahagia dengan rasa cukup. 

Duk Sik ini lulusan Universitas Seoul, banyak yang bertanya-tanya mengapa lulusan universitas terkemuka mau hidup begini?. Maksudnya ya mau hidup biasa aja di sebuah desa, tidak bekerja di perusahaan bagus ataupun menjadi pembisnis sukses, padahal dia mampu lho. Jawaban dia kira-kira seperti ini ; "ya terus kenapa?" Dia sudah menikmati hidupnya yang tinggal di desa dengan pekerjaan tidak tetap, liburpun suka-suka dia, hihi. 

Pesan yang sangat menohok sih buat aku pribadi mungkin kamu juga. Karena banyak dari masyarakat kita yang belum pintar dalam menikmati hidup, sehingga ada buku Seni Menikmati Hidup, ternyata penting juga belajar untuk menikmati hidup. Mungkin kita hidup dengan stigma sosial yang turun temurun, ya kita tinggal ngikutin rules sosial yang ada, yang dianut kebanyakan orang. Standar sosial seperti sekolah tinggi itu agar sukses, standar suksespun ada seperti punya properti, kendaraan sendiri, pasive income, dll. 

Tidak salah, tapi sangat mungkin dalam proses tersebut kita tidak benar-benar mindfullnes. Kerja capek banget selalu terburu-buru waktu sampai tidak menikmati apa yang dikerjakan. Hanya fokus pada tujuan yang katanya harus sukses, banyak tabungan, bisa shoping dan traveling, dll. Yang seperti ini tentunya mudah terserang bounout syndrom.

Atau bahkan banyak yang ingin terlihat sukses dimata orang lain atau untuk status sosial?, banyak juga lho yang obsesi sukses karena bales dendam, dulu pernah diremehkan dll. Ada part dimana He-Jin membanggakan Duk-Sik di depan teman-temannya bahwa dia lulusan Universitas Seoul. Sepertinya lumrah ya, kitapun sering melihat dan mendengar bangga akan anaknya yang kuliah di universitas ternama, bekerja di perusahaan bergengsi, dll. jadi jangan-jangan selama ini hanya ingin terlihat keren? bukan benar-benar pilihan hidup?

Hidup bukan untuk orang lain tapi diri kita sendiri. Sesekali upayakan selftalk apa kita sudah menikmati waktu demi waktu? apa sebenarnya tujuan hidup kita?

Tidak salah jika mau mencapai sukses sesuai status sosial, tapi tidak-pun tidak apa-apa.

Pastikan kita menikmati hidup, mindfull atas pilihan yang kita pilih, pekerjaan yang kita lakukan. Karena hidup ini karunia Allah, pastikan sesuai dengan aturanNya. Hidup dengan rasa cukup seperti karakter Duk-Sik ini jauh lebih bahagia dan menenangkan. Mungkin Hong Duk-Sik mengaplikasikan ajaran Rosul ;

Memiliki jiwa Qona'ah, merasa cukup atas apa yang Allah beri. Dan orang yang paling baik adalah yang paling banyak kebaikan kepada orang lain. 

2. Menjaga Kesehatan Merupakan Kasih Sayang

Ada part dimana Kim Gam Ri sakit gigi dan bersiteguh untuk tidak impan malah memilih cabut gigi, He-Jin selaku dokter gigi menyarankan implan daripada harus mencabut gigi. Namun, Kin Gam Ri bersikeras untuk berhemat dan tidak ingin merepotkan anaknya untuk biaya implan. Ada part dimana Duk Sik mengajak ngobrol He-Jin untuk membujuk Gam Ri, namun He Jin menolak dan berkata ;

"Kau tahu yang seharusnya orangtua lakukan demi anaknya?"

"Hidup sehat dan panjang umur"

"Bukan menahan sakit demi memberikan lebih banyak uang, tapi menjaga diri dengan baik"

Jleb banget gak sih? disadari atau tidak banyak orangtua yang melakukan hal tersebut saat ini. Dan ini menjadi remender kita sebagai orangtua. Hidup sehat dan bahagia adalah salah satu bentuk cinta kasih untuk anak-anak kita.

3. Menghargai Proses bukan Hasil

Ada part dimana I-Jun anak yang manis dan pintar, walau orangtuanya sudah bercerai namun mereka bersepakat untuk kompak membersarkan I-Jun. Saat itu orangtua I-Jun membuat makan bersama dalam rangka merayakan kemenangan olimpiade I-Jun. Sebelumnya I-Jun ingin memelihara humster dirumah namun ia menunggu momen menang olimpiade agar diijinkan orangtuanya. Namun apa yang dikatakan ibu-nya I-Jun ini sungguh menyentuh hati. 

"Tapi ibu mengizinkannya bukan karena kau mendapat penghargaan. Ibu ijinkan karena kau ingin memeliharanya".

"Pesta ini pun bukan karena kau mendapat penghargaan. I-Jun mendapat penghargaan adalah hal yang bagus. Tapi walau kau tak menjadi juara kita tetap akan berpesta. Pesta ini untuk merayakan usaha kerasmu. Menurut ibu usaha keras lebih penting daripada hasil akhirnya."

Meleleh sekali di part ini, kembali evaluasi bagaimana aku ke anak-anak ya? apakah sudah sebijak ibunya I-Jun ini?

Baca juga : Pesan pendidikan dalam drama Sky Castle

Sebenarnya banyak sekali pesan moral dalam drama ini, namun 3 poin ini lah yang paling mendalam buat ku pribadi. Kalau kamu gimana? kesan apa yang diambil dalam drama ini? share di kolom komentar ya!




Comments

  1. Akh kangeeeen drama yg seperti INIIII 😍😍😍.memang bikin hati hangat banget ya Mbaaa. Tipe drama yg slice of life gini selalu aku pasangin dengan drakor yg thriller, sadis, berat atau bikin pusing kepala. JD begitu udh puyeng, langsung diademin ama drama tipe hometown cha Cha . Mood naik lagi πŸ˜„.

    Dan ga enaknya kalo nonton drama model begini, beraaat bgt move on nya pas udh tamat🀣

    ReplyDelete

Post a Comment