5 Alasan Memulai Hidup Minimalis

 




Assalamualaikum,

Awal tahun ini aku memilih untuk memulai hidup minimalis, salah satu gaya hidup yang sedang marak beberapa tahun belakangan ini, padahal gaya hidup sederhana sudah dicontohkan Rasulullah sejak dulu. Minimalist lifestyle ini dipopulerkan juga oleh beberapa orang Jepang, seperti Fumio Sasaki dalam bukunya Goodby Thinks dan juga Maria Kondo dengan Metode Konmari. Setelah mempelajari gaya hidup ini dan aku merasa perlu mencoba sedikit demi sedikit, sebelum benar-benar mendalaminya. 

Awal aku mulai mencari tahu tentang gaya hidup minimalis ini, dengan membaca, menonton video sampai mengikuti kuliah whatsapp. Setelahnya aku merasa tertarik dan ingin mencoba, rasanya gaya hidup ini baik dan patut diupayakan untuk lebih Bahagia. Aku harus mencari Strong Why mengapa aku harus menerapkan gaya hidup ini. Strong Why ini bertujuan untuk menguatkan niat bahwa memang benar aku membutuhkan hal ini, bukan sekedar mengikuti tren atau sebatas keinginan sesaat saja. Hal ini akan sangat membantu mengupayakan prosesnya, seperti mau mencoba, tidak pantang menyerah, dsb. Setelah merenung dan menemukan 5 alasan aku harus memulai hidup minimalis. 

1. Tinggal di Rumah yang Tidak Terlalu Luas 

Saat ini aku tinggal ber-3 dengan suamiku, Bilal dan anakku, Nada di sebuah kontrakan yang tidak terlalu luas di daerah Jakarta. Berbeda dengan rumah orang tua di Bandung yang memang jauh lebih besar, disana aku memiliki kamar yang jauh lebih besar dibandingkan kamar kontrakan di Jakarta saat ini, dan lagi kamar di Bandung hanya diisi olehku seorang, sedangkan kamar di Jakarta diisi oleh 3 orang dengan Bilal dan Nada. Mau tak mau memaksa kami berbagi ruang, plus dengan barang-barang kami masing-masing. Dulu aku beberapa kali membeli barang-barang yang sebenarnya tidak butuh bahkan tidak penting, akhirnya hanya memenuhi kontrakan yang memang sudah sempit tersebut. Sehingga ruang kami sudah sempit semakin sempit. Dengan gaya hidup minimalis, aku mulai mencoba merubah mindset dengan menghargai ruang. Kontrakan sempit ya jangan ditambahkan sempit dengan barang-barang yang fungsionalnya tidak urgensi

2. Senang dengan Kerapihan dan Keteraturan 

Aku dan Bilal tipe yang menyukai kerapihan, keteraturan, juga suka merencanakan. Namun dengan banyaknya barang dan tidak banyak ruang tempat tinggal, kami merasa tidak pernah beres dan tidak ada ruang lagi untuk menyimpan barang-barang tersebut, sehingga kembali ditumpuk-tumpuk dan tidak pernah rapi/teratur. Akibatnya? ya tentu kita jadi tidak happy dengan keadaan tersebut, merasa harus pindah kembali ke kontrakan yang lebih besar, padahal tempat kami ini lebih besar dari tempat tinggal sebelumnya yang hanya ngekost. 

Aku merasa stress sendiri dengan keadaan rumah yang tidak pernah beres, ditambah sekarang dengan mainan-mainan anak. Aku merasa Bilal-pun merasakan hal yang sama, karena kami sering saling bantu urusan bebenah ini, terlebih memang kami menyukai kegiatan bebenah. Hal yang membuat aku dan Bilal merasa harus ada yang diubah. Dengan hidup minimalis peluang kami untuk merasakan kebahagiaan rumah rapi dan teratur lebih besar karena tidak terlalu banyak barang yang menumpuk, lalu ada metode bebenah yang bisa kami pelajari agar lebih berbahagia. 

3. Lelah dengan Keinginan Membeli Barang 

Aku juga wanita yang suka banget kecantikan, fashion, dsb. yang membuat menjadi lelah adalah, ketika aku tergiur dengan online shop yang gak ada matinya, gratis ongkir, discount , new araival, limited edition, dsb. Etapi belum ada budget-nya guys, nyesek gak tuh? wkwk. Aku jadi stress dan gak bersyukur. Kadang aku tandai dulu, dalam hati 'nanti kalau punya budget beli ah', dan hampir setiap hari lihat postingan-postingan para online shop itu, tentu seringnya tergoda dan mulai tanda-tandain barang yang disuka, lalu sedih, kecewa, gak bersyukur karena saat itu gak ada budget buat belinya. Akhirnya aku menyerah, lelah sangat dengan kondisi seperti itu. 

Dengan mindset minimalis aku tidak akan lelah dengan keinginan membeli barang, fokus pada apa-apa yang aku butuhkan bukan pada yang aku inginkan, menghilanhgkan pola pikir konsumtif. Mindset minimalist juga akan membuat pikiranku lebih terbuka pada hal-hal yang baru yang lebih bermanfaat. 
Sifat manusia banyak maunya dan tidak pernah puas. Ya.. karena manusia memiliki hawa nafsu. Etapi manusia juga punya logika dan hati lho untuk mengontrolnya. Be Positive Thingking dan Hati yang Bersyukur. 

4. Sudah Harus Banyak Menabung 

Nada sudah masuk usia 3 tahun, jika aku dan Bilal hanya memikirkan keinginan membeli ini dan itu mengikuti keinginan masing-masing, maka bagaimana dengan biaya pendidikan Nada nanti?. Kami merasa sudah saatnya untuk fokus menabung, utamanya memang untuk pendidikan Nada, selebihnya tentu untuk dana pensiun, dana darurat, dana ibadah ke tanah suci, dana traveling, dsb. Banyak ya? iyap! maka kami memilih untuk fokus menabung/investasi. Dengan minimalist lifestyle ini dapat mendukung kami dalam upaya menabung/investasi, terlebih tidak lagi diperbudak keinginan membeli ini dan itu sehingga kami dapat saving lebih. 

5. Ingin Memiliki Banyak Waktu Me Time 

Merasa waktu begitu cepat berjalan, berlalu begitu saja, ditambah kesibukan menjadi ibu rumah tangga yang tidak pernah selesai pekerjaannya dari bangun sampai tidur lagi, ini sangat melelahkan. Terkadang aku dapat me time ketika malam Nada sudah tidur, namun itu seperti memotong jatah tidurku juga, atau di weekend ketika Bilal libur. Rasanya sedikit sekali waktu untuk me time, bahkan sekarang ini aku sudah jarang sekali membaca buku padahal aku ingin sekaliii. Pikiranku juga terasa penuh, entah memikirkan apa, wkwk. Ya mungkin banyaknya pikiran tidak penting seperti memikirkan baju yang ingin aku beli tapi tidak ada budget-nya, wkwk. 

Comments

  1. Akupun mulai membiasakan utk hidup minimalis juga mba, Krn alasan2 di atas. Rumah yg kami punya skr, kecil, jd kalo maksain utk beli banyak BRG, yg ada makin berantakan dan rumah kliatan sempit. Aku terbiasa membuang barang sama dgn jumlah hrg yg dibeli. Jd kalo beli baju 4, artinya ada 4 baju lama di lemari yg hrs dibuang.

    Tapi sayangnya pak suami susah seperti itu. Dia terbiasa dididik utk sayang Ama barang2. Makin numpuk makanya baju atopun brg2 di lemari dia. Yg ada jg aku diem2 membuang barang pak suami yg aku tahu dia udh ga pake. Tp sayang doang utk dibuang. Buktinya ga ngeh tuh orangnya :p.

    Kalo belanja online memang yaaa godaannya gedeee bgt hahahaha. Tapi so far yg aku paling susah tahan itu utk beli buku mba. Kalo itu exception. Aku terlaku cinta Ama buku sampe bikin ruangan khusus utk itu. Jd semua buku memang ga bisa dibuang :D.

    ReplyDelete
  2. Sama mba..... akupun berat kalau declutering buku, duh malah sekarang beli beli lagi buku, gimana yaa... wkwk. Memang masih harus belajar untuk berpisah sama barang-barang yang punya nilai buat kita ya, Istilah Maria Kondo spack joy.

    ReplyDelete
  3. Hidup minimalis emang nyaman ya kalau udah dijalanin, sayangnya kadang keinginan belanja online slalu membayangi setiap hari..

    Laper mata lebih menakutkan daripada lapar perut :(

    ReplyDelete

Post a Comment